Kamis, 15 September 2011

Unbelievable!


Kutulis buat jiwaku dan jiwa rekanku para pendaki…

Maksud hati menulis, sebagai bentuk “linggis” penyongkel harapan yang seakan amat sangat menipis dalam diri saya, sekaligus diharapkan menjadi pembangkit kekuatan dahsyat yang bersemayam dalam diri rekan-rekan sekalian. Inilah waktunya kekuatan itu kita aktifkan.

Kawan, betapa tinggi bukit yang telah dan akan kita daki. Betapa zigzag liku-liku koridor yang telah dan akan kita tempuhi. Yang ke-semuanya tak terlepas dari rintihan jerih payah kala kita menempuh sekelumit sketsanya. Rentetan tekanan akan senantiasa menemani setiap babak perjuangan dalam hidup ini. Sekuntum bunga tak akan terlihat indah tanpa corak warnanya. Takkan orang-orang sudi mencium tanpa semerbak wangi yang dihembus olehnya. Begitulahhukum alam berbicara agar kita mengerti permainan yang telah ia beri aturan tersendiri.

Satu, dua, atau tiga tahun lebih dalam hitungan undur, kita telah menginjaki suatu arena yang menuntut kita bermain dengan penuh kelihaian dan kejelian. Arena yang telah memberi kita tekanan dan rintihan melewatinya. Al Azhar. Ia dengan segala aturan mainnya telah menjebak, mengancam, bahkan memukul batin mereka yang nekat bergelut dengannya. Kita yang dulu tak pernah menyangka itu akan terjadi kini terperanjat, betapa ia tidak seperti yang kita duga. Tapi apa daya, permainan telah kita mainkan dan kita harus mengakhirinya.

Empat bukit, yang Azhar minta untuk kita daki. Dengan fase ujian setiap tingkat yang Azhar ciptakan. Dan hanya satu jalur untuk mencapai bukit berikutnya. Yaitu melewati bukit sebelumnya dengan tenggang waktu sekian menit. Kehilangan satu menit, dispensasi masih berlaku. Begitu juga dengan menit kedua. Azhar cukup bijaksana. Akan tapi tidak untuk menit ketiga dan seterusnya. Bila itu terjadi, kita gagal dan harus kembali mendaki dari dasar bukit. Semakin sedikit menit yang kita habiskan untuk sebuah kegagalan pertama, maka semakin banyak waktu yang diberi untuk kita mendaki kedua kalinya. Dan keringanan disini adalah hanya mengulang maddah yang tertinggal. Dan keringanan pada setiap permainan adalah alur yang di-design padanya telah terekam dalam memory otak pemainnya. Bukankah setiap permainan memiliki tahap-tahap yang harus terlewati?

Segala daya upaya yang terkerah dan keringat yang terkuras, membuktikan kita telah mendaki bukit itu. Waktu tidak pernah berbohong. Andaikata kita sampai di puncak tepat waktu, kita berhasil. Selamat menuju ke bukit berikutnya atau mengakhiri permainan. Andai kita kebablasan sampai tiga menit atau lebih, maka naaslah. Sedang kita semua tahu, waktu tidak pernah berbohong, ia tidak bisa disogok. Jalannya waktu adalah hal mutlak, yang tidak ada tawar menawar didalamnya. Adakah yang kuasa mengulang jalannya waktu? 
Jawabannya “ada”. Allah mampu segalanya. Begitupun dengan kebodohan demi kebodohan yang kita persembahkan dalam ujian Al Azhar. Allah mampu menyulap semua itu. Masalahnya, sejauh mana kita yakin Allah akan menyulapnya, kembali ke jiwa kita masing-masing.

Saya tak memungkiri, keyakinan akan menyeret sesuatu pada kenyataan. Ada juga yang beranggapan, Fakta itu sama sekali bukan keyakinan. Keyakinan itu bukan fakta. Artinya, dipercaya atau tidak dipercaya, fakta tidak bisa diubah dan tidak bisa berubah karena adanya kepercayaan atau keimanan. Kalau saja ada fakta yang bisa berubah karena keyakinan atau keimanan, maka hal itu bukanlah fakta, tapi Delusi atau Waham”. Yah, sebagai manusia minim ilmu bahkan belum sebiji bayam, saya tidak memungkiri kata-kata tersebut. Hanya sedikit meluruskan corong pikir saya, keyakinan yang saya maksudkan disini bukanlah untuk sesuatu yang telah menjadi fakta. Hasil akhir yang akan kita capai nantinya masih sangat misterius. Namun sayangnya, kita sudah bisa menebak hasilnya dengan apa yang telah kita perbuat saat mendaki, yaitu apa yang kita isi dalam lembar ujian. Sekali lagi ulon tuan tegaskan, “innallah ‘ala kulli syai-in qadir”.

Mungkin rekan-rekan pernah menyaksikan Lahore movie, Islamic Republik of Pakistan. Memang sebagai kritikus kacangan, menurut saya ada beberapa adegan menyayat hati, karena sedikit banyaknya menggores nama islam dengan tinta merah, tapi saya suka gaya Veerender Singh di permainan cricket (sejenis permainan kasti). Ia menghayalkan apa yang akan terjadi sebelum bola ia pukul, sebuah kesuksesan yang membuat orang memberi tepuk tangan yang cukup meriah padanya. Dan apa yang terjadi, persis seperti apa yang ia hayalkan. Pukulannya cukup memikat hati para hadirin.

Lalu Gajanam Oinam, masih dalam Lahore movie, dalam kompetisi boxing (sejenis tinju yang boleh menggunakan kaki), ia mengalami patah lengan. Kondisinya kritis. Terpaksa harus di larikan kerumah sakit. Syukur ia masih sadar, ia masih bisa memelas bahkan mengemis pada sang promotor, agar ia tetap diizinkan melanjutkan pertandingan. Alhasil, keajaiban terjadi. Lawan tumbang hanya dengan satu tendangan baling. [kayak di film-film. Memang ini film..c.k]. Patut kita garis bawahi pada tekat dan keyakinan mereka.

Ya, keyakinan. Sebagaimana mereka yang yakin masih bisa berjalan, buktinya mereka bisa. Lalu mengapa seorang tuna plegia tak mampu berjalan? Karena mereka tidak yakin akan itu. Bagaimana bisa yakin sedang tulang punggungnya patah dan hancur bahkan hampir setengah badannya terasa mati. Saya harap rekan-rekan mengerti poin yang saya maksudkan.

Mari kita simak pengakuan Morris E. Goodman, yang dijuluki sebagai The Miracle Man atau Manusia Ajaib. Morris mengalami cidera berat dalam satu aksiden kecelakaan pesawat, urat saraf tulang punggungnya tertekan, kerusakan tulang nomor satu dan kedua, berikut refleksi menelan yang juga tertekan sehingga tidak dapat minum serta kerusakan diafragma (ruang antara dada dan perut) yang mengakibatkan tidak bisa bernafas melainkan dengan alat bantu pernafasan. Dokter menvonis ia akan lumpuh seperti tumbuhan. Yang Morris dapat lakukan hanyalah sebatas mengedipkan mata. Rekan-rekan ingin tahu apa yang dikatakan hati kecilnya? “bernafaslah yang dalam, bernafaslah!”. Ia pun terbebas dari alat bantu pernafasan dimana dokter tidak bisa menjelaskan akan hal ini.

Morris tak membiarkan hal lain memasuki pikirannya. Ia hanya punya target, keluar rumah sakit dengan kedua kakinya. Kata dokter lagi itu tidak mungkin terjadi. Ternyata, dengan terbata dan tertatih, The Miracle Man keluar dari rumah sakit mengandalkan kedua kakinya. Konsekwensi dari keyakinan pada kata hatinya.

Morris saja yang yakin pada kata hatinya mendapat mu’jizat, bagaimana dengan keyakinan kita pada Allah jalla wa ‘ula? Seyogyanya keyakinan kita pada-Nya melebihi segalanya. Allah akan selalu punya kejutan buat para kekasih-Nya. Dengan tak henti meminta pada Allah agar sudi kiranya Ia memberi kita yang terbaik di mata-Nya. Kita  tertantang, “kita ingin yang terbaik di mata Allah”. Allah akan memberi kita kesuksesan pada bukit yang telah kita daki. Allahumma amin. Bagaimana jika menurut Allah yang terbaik itu sebaliknya? Bukan bermaksud mendo’akan kegagalan, tapi kita sebagai manusia dungu tidak sepenuhnya tahu apa arti kebaikan sejati.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S Al Baqarah: 216)

Apa kita sudah nekat menyerahkan sepenuhnya pada Allah? Percayalah, yang terbaik di mata Allah ialah yang terbaik dimata semua makhluk. Jika memang pilihan yang Allah beri mengulang tahun depan, percayalah, ada ulat yang akan menjadi kupu-kupu. Ada kaktus yang akan berbunga sangat indah sekali. Akan kita lihat bagaimana mengejutkan skenario Tuhan.

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina”. (Q.S Al Mu’min: 60)

“…dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). (Q.S Al A’raf: 56)
Firman Allah merupakan hal aktual dan tak terbantahkan lagi. Janji-janji Allah itu nyata adanya. Rekan-rekan pasti lebih tahu dalam masalah ini.  Selama kita mencintai Allah dan yakin Allah menyayangi kita, kebaikan itu telah datang meskipun ia berwujud ranjau berduri.

“Kadangkala Tuhan mengirim surat cinta-Nya dalam amplop yang pinggirannya hitam”. (C.H. Spurgeon)

Jebakan bagi kita yang sukses nantinya ialah, apa dada kita akan membusung? Apa serta merta merasa kesuksesan itu atas jerih payah kita sendiri dan kita memang orang yang cerdas, orang yang layak untuk lulus? Atau dengan nikmat itu malah menjadikan kita lupa diri sehingga mengurangi usaha yang telah kita jalani? Jika demikian, kita telah terjebak dan saya hanya mampu mengatakan, “kasian deh lue!!!”

Jika sebaliknya, dengan kata lain (maaf) jika gagal, yakinlah, kita belum menamatkan alur naskah yang Allah susun dengan begitu rapinya. Semoga tidak menjadikan kita berburuk sangka pada-Nyapadahal Allah punya kejutan yang  akan mambuat hati kita mengharu biru. Sehingga dengan bersimpuh rekan-rekan akan berkata, “unbeliveble!” Tidak dapat dipercaya. Teka-teki Tuhan hanya mampu dipecahkan oleh mereka yang telah Ia beri petunjuk. Perlu kita ingat, frustasi tidak akan mengubah nasib. Tetaplah berusaha dan tunggu saat Allah mempersembahkan kejutan tersebut.

Ujian berakhir, tapi perang spiritual belum. Jangan hentikan munajatmu. Harapan untuk sebuah keajaiban itu masih terpampang lebar. Sangat lebar. Selebar kekuasaan Allah atas segala sesuatu. Jangan tunggu hasil yang akan keluar jauh dari yang diharapkan. Apapun bisa terjadi. Bukan kita yang menentukan, melainkan Allah Sang Penentu.

Bentangklah sajadah di sepertiga malam, tadahkan tangan, terbitkan butir-butir embun itu sebagai bukti kita telah menyerahkan semua pada kekuasan Allah.  Renggut pisau iman, bacok dadamu dan tepat di hatimu, dan biarkan ia mengalirkan darah harapan pada mu’jizat yang akan Allah bentangkan di hadapan belalak matamu. Insya Allah, kado yang telah Allah bingkis akan segera kita buka bersama. Semoga tiada masa kita menatap kepahitan dengan kegagalan.

Entah tulisan ini bermakna atau tidak, entah bentuknya “linggis” atau garpu logam, kalau terselip kalimat tajam atau sok meramal saya minta maaf. Ribuan terima kasih telah sudi memangkas waktu untuk tulisan sederhana ini. “Manusia tidak mungkin memberi apa yang tidak ia miliki”. Segalanya kita kembalikan pada Allah sahaja. Wailallahi nurja’ul umur.

Untuk part-2 silahkan klik disini.