Kamis, 15 September 2011

Pelita Hitam


*Tidak dibenarkan membaca bagi orang sibuk atau sok sibuk...hehe

Bismillah Ar Rahman Ar Rahim….
Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Al Imran: 6)

Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia dan membelakang dengan sikap yang sombong. Dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa. (Q.S. Al Isra’: 83)
 
Bersemayam dalam pekat rahim, tanpa cahaya, tanpa suara. Kadang kala detak jantung berdegub, ibarat nada kain ditumbuk, namun telinga terkatup. Entah bagaimana mereka tahu, padahal mereka tak mendengar. Atau gerakan yang memindahkan mereka ibarat boneka pajangan, namun buta rasa. Mengapa mereka menjawab seruan yang memanggil pada kemenangan? Sedang mereka sebenarnya tidak mengerti. Refleksi menggema. Itu bukan misteri. Refleksi telah berkerja sesuai titah Tuhannya. Jelaslah buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

Mentari terbit. Perlahan. Lamban. Tak lama ia menembus benteng kegelapan. Laksana meteor membelah atmosfer. Meski hangus terbakar gesekan udara, tetapi ia gagah merapai sertifikat, menjelmai meteorit. Kini boneka itu hidup. Hari siang akan segera tersibak. Panas, dingin, pahit, sakit adalah asesoris yang eksistansinya telah lama tertera. Alam berbicara. Mudah saja, yang patuh telaga berlatih, yang angkuh siaga merintih dan yang diam hanya akan kembali sebagai boneka.

Cahaya selalu akan memancar selepas gegap gempita. Dalam gelap sebagian meraung, sebagian mematung, menanti secercah cahaya. Tatkala sinaran mencipta bayang, seluruhnya bergerak, karena sinaran benderang warnanya. Lantas bila pewagam, bila datang pelita hitam, hanya ada satu pilihan, kembali meraung, kembali memaku diri.  Alam bertanya pada mereka, pada kita, bagaimana jika tidak akan pernah ada lagi cahaya bersua, atau senantiasa hitam warnanya? Semua akan menjawab, “Kita kembali sebagai boneka”.

Dan pada hari terjadinya kiamat, orang-orang yang berdosa terdiam berputus asa. (Q.S. Ar Rum: 12)

Hakikatnya, sudut-sudut lekuk, masih duduk segelintir yang tak suka bicara. Karena mereka pernah mengilas mata pada pelita, yang terang sinarnya, setidaknya mereka percaya bahwa cahaya itu ada. Merekalah yang akan berompi baja, dengan perisai siap berlaga, bernyawa hingga hari kemenangan tiba.

“Ibrahim as, beliau pernah melihat pelita, yang hitam warnanya. Namun beliau percaya, pelita adalah sesuatu yang terang bersinar. Puas merangkak dalam rawa, beliau mendapat yang telah lama terduga, ternyata pelita itu memang terang, bukanlah berwarna hitam.”

*Grace hopper, kegagalan adalah taman bermain. Saban masa orang bertutur, “Tapi, kita selalu melakukan begitu (hal yang sama).” Ia masih mampu menjawab, “Kapal di pelabuhan memang aman. Tapi bukan itu kegunaan kapal.” Apapun yang ia alami pada akhirnya, yang pasti ia mendapat gelar, “The Amazing Grace.”

Pisau yang tak pernah digunakan memang selalu mengkilat dan tajam. Tapi bukan itu kegunaan pisau.