Kamis, 15 September 2011

Meuchen!


Meuchen!
mendobrak
Membentur  dinding maskulin
Di selokan balada
Pelas hati memekik
Miris

Meuchen!
Meski tanahku tanah berdarah
Area berlaga…
Tempat serdadu berlatih membunuh
Tempat serigala mengasah taring
Penuh jeritan malam
Penuh sangir tak bertuan
Mawar layu dalam taman bunga
Burung-burung mati dalam sangkarnya
Oleh zumbai berparas naga

Sebelum…
Para lagonder
Membanting aksi
Mematah taring
Pendobrak adegan xenokrasi

Mereka…
Yang dikenal sebagai indatu
Penyibak tirai imperialisme
Jadilah tanahku tanah legendaris
Mata air pun mengalir dinamis

Sayang, itu kemarin

Sebelum…
Mekarnya mawar tak bertangkai
Lahir merpati pemakan bangkai
Zumbai mulai bertopeng
Daging busuk berjejeran
Xenomania menyerang
Peroboh ruh keromantikan

Kesucian dikebiri
Kehormatan ditelanjangi
Marwah melayang
Diktat-diktat gosong tanpa api

Meuchen!
Duhai…
Para lagonder bermotil
Sekiranya Allah izinkan
Rasukilah jiwa-jiwa kami
Lalu rebut kembali tamaddun itu

Pada diriku
kucium aroma pengorbanamu
merecup-recup sunyi
meraung tanpa bunyi
motilmu…kami butuh

Oh..
Aku meuchen…
Tanahku yang dulu
Yang penuh kolaborasi warna
Dengan ukiran setiap sikunya

Segera dengan izin yang kuasa
kembali mengalun
Seruling syahdu si ticem Pala
Pada setiap pagi dan senja
Hingga meuchen..
sirna dikunyah masa.