Jumat, 16 September 2011

Makalah Tulisan Fiksi

Menyibak Tirai Fiksi
Oleh; Faqih bin Yusuf

video
A.         Sejarah terbentuknya Fiksi.
Pertengahan abad ke-18, science fiction atau fiksi ilmiah muncul ke permukaan. Ketika itu belum dikenal definisi fiksi secara universal layaknya saat ini. Melainkan hanya sebuah genre fiksi yang berhubungan dengan inovasi khayalan dalam ilmu pengetahuan atau teknologi. Biasanya berbentuk dalam manajemen futuristik, yang kesemuanya dibingkai dalam ide-ide sastra.
Sebagian besar science fiction didasarkan pada tulisan rasional tentang kemungkinan alternatif. Seperti orang naik ke bulan, terciptanya robot, alat pengulang waktu dan sebagainya. Science fiction memang sebuah imajinasi, tapi bukan fantasi. Fantasi mustahil terjadi. Sedangkan Science fiction mungkin akan kejadiannya. Kemungkinan tersebut dikaitkan dengan logika dan perkembangan dunia. Meskipun beberapa elemen dalam sebuah cerita tersebut masih spekulasi imajinatif murni.
Beberapa tokoh yang dikenal sebagai pelopor awal terbentuknya fiksi ilmiah, seperti Hugo Gernsback dengan “Ralph 124C 41+”, atau Edgar Allan Poe dengan “Conversation of Eiros and Charmion”, Jules Verne dengan “From the Earth to the Moon”, H. G. Wells dengan “The Time Machine”, serta beberapa lainnya yang dianggap sebagai pencetus lahirnya fiksi ilmiah dari abad ke-18 hingga ke-20 masehi.
Jika kita mengkaji ulang beberapa abad sebelum mereka, kita akan menemukan karya fiksi ilmiah berjudul  “Ar Risalah Al Kamiliyyah fil Siera An Nabawiyyah” oleh Ibnu Al Nafis yang muncul pada abad ke-13. Dari sanalah sebenarnya fiksi ilmiah bermula, jauh sebelum golongan barat mengetahuinya. Novel tersebut juga dikenal sebagai Risalah Ibn Fadil Natiq yang kemudian diterjemahkan menjadi Theologus Autodidactus.
Ibnu Al Nafis merupakan seorang polymath islam. Nama lengkapnya Ala’uddin Abul Hassan Ali bin Abi Hazm Al Quraish Al Dimashqi. Selain dikenal sebagai ahli anatomi, ahli hukum, hafiz, sarjana hadis, filsuf Islam, novelis, psikolog , ilmuwan,  astronom, dan sejarawan. Beliau juga dikenal sebagai dokter pertama yang menggambarkan sirkulasi paru-paru dan dianggap sebagai bapak fisiologi sirkulasi. Beliau merupakan orang pertama yang diketahui telah mendokumentasikan sirkuit paru-paru secara besar-besaran. Karya-karyanya tak tercatat sampai akhirnya ditemukan di Berlin pada tahun 1924.
 Karyanya Ar Risalah Al Kamiliyyah fil Siera An Nabawiyyah atau Theologus Autodidactus ini merupakan contoh awal dari sebuah cerita fiksi ilmiah yang berkaitan dengan berbagai unsur science fiction  seperti generasi spontan, futurologi, akhir dunia, hari kiamat, hari kebangkitan, dan akhirat. Ibn Nafis menjelaskan akan kejadian ini menggunakan pengetahuan ilmiah biologi, kosmologi astronomi dan geologi yang dikenal di zamannya. Tujuan utama dari karya fiksi ilmiah beliau adalah untuk menjelaskan ajaran agama Islam dalam hal sains dan filsafat. Dimana pada masa itu, budaya Arab jauh lebih maju dari Eropa bagian Barat.
Barulah setelah itu, makna fiksi berkembang jauh lebih pesat hingga abad ke-21. Evolusi fiksi yang terjadi secara berangsur-angsur, membuktikan kalau ternyata fiksi banyak membawa pengaruh terhadap perkembangan dunia serta mendapat dukungan besar dari masyarakat. Mereka yang dulunya minder dan ragu untuk menulis fiksi kini sebaliknya. Fiksi bukan lagi sebatas mimpi belaka, melainkan sudah menjadi bagian dari alat yang memotivasi. Fiksi tak lagi hanya dipaku pada karya ilmiah. Lahirlah fiksi berjenis fantasi, fiksi yang di angkat dari kisah nyata dan lain sebagainya. Hingga kini jenis fiksi telah banyak bertebaran di seantero bumi.
B.         Pengertian Fiksi.
Fiksi adalah sebuah narasi yang sebagian atau seluruhnya berkaitan dengan peristiwa yang tidak faktual  melainkan imajiner dan diciptakan oleh seseorang berdasarkan imajinasinya. Baik itu berbentuk tontonan, pendengaran ataupun tulisan. Secara kasar bahasa, fiksi bermakna sebuah tipuan.
Karya fiksi mengambil langkah dalam bentuk cerita, untuk menyampaikan poin, perspektif pengarang, atau hanya sekedar untuk menghibur. Pada dasarnya karya jenis ini tidak butuh pada fakta, logika atau kisah nyata. Apa dan bagaimana isinya, semua tergantung pada sang pengarangnya. Fiksi merupakan sesuatu yang timbul dari dunia khayalan. Malah sebaliknya, ketika fiksi telah berdasarkan fakta secara keseluruhan, maka tak lagi berbentuk fiksi, melainkan sebuah sejarah.
Memang ada beberapa karya fiksi yang berdasarkan pada kisah nyata (base on true story), namun ketika ia telah dirangkai dan dibumbuhi imajinasi, ketika itu pula jenisnya berganti menjadi fiksi. Ia tak lagi disebut sebagai sejarah atau sebuah fakta. Ibarat pepatah, karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Sejarah akan tetap berbentuk sejarah, manakala nama, tempat dan tanggal tak berubah sedikitpun.

C.         Jenis-jenis Fiksi.
Jenis fiksi masih berkembangan dan akan terus berkembang sesuai perubahan zaman. Abad terakhir, fiksi telah terbentuk kepada beberapa jenis. Di antaranya, fiksi fantasi, fiksi realistis, fiksi sejarah, fiksi tradisional, fiksi misteri, fiksi ilmiah dan fiksi humor.
1.          Fiksi Fantasi (Fantasy Fiction).
Jenis ini merupakan sebuah cerita yang mungkin saja pernah benar-benar terjadi. Namun ia tidak realistis. Fiksi fantasi tidak dapat diterima akal atau bertolak belakang dengan logika manusia. Seperti contoh, The Harry Potter series yang ditulis JK Rowling. Berkisah tentang dunia sihir berikut segala adegan dan keaktualannya. Sihir boleh saja ada. Namun dunia sihir yang JK Rowling narasikan, sangat sulit dicerna oleh panca indera sehingga ia tetap terikat pada fiksi fantasi.
2.          Fiksi Realistis (Realistic Fiction).
    Meskipun berjenis fiksi, namun beberapa kejadian, orang, dan tempat mungkin saja terjadi. Baik sekarang atau pun di masa depan. Sebagai contoh, novel From The Earth To The Moon karya Jules Verne. Pada saat itu, novelnya hanyalah produk dari sebuah imajinasi. Namun  tahun 1969, apa yang ia ceritakan benar-benar terjadi. Neil Armstrong untuk pertama kalinya  menginjakkan kaki di bulan dan tim kembali dengan selamat ke bumi sesuai yang Jules Verne narasikan dalam novelnya. Fiksi realistis muncul kepada pembaca untuk menjadi sesuatu yang sebenarnya belum dan mungkin akan terjadi.
3.          Fiksi Sejarah (History Fiction).
    Sebuah cerita nyata yang pernah terjadi di masa lalu, lantas kembali dipaparkan di zaman modern. Nama, tempat dan kejadian di tentukan sesuai sejarah tersebut. Contohnya film Hachiko Monogatari yang disutradarai oleh SeijirĊ Koyama. Merupakan sebuah film melodramatis yang menceritakan kisah nyata tentang persahabatan, kepercayaan dan kesetiaan seekor anjing pada tuannya Profesor Ueno bahkan setelah beliau meninggal dunia. Film ini dirilis pada tahun 1987 dan merupakan film Jepang teratas di box office tahun itu. Film ini menggambarkan rangkaian peristiwa yang benar terjadi, mulai dari kelahiran Hachiko pada 10 November 1923 sampai kematiannya 8 Maret 1935.
4.          Fiksi Tradisional (Traditional Fiction)
Adalah cerita dongeng, mitos, atau tentang legenda rakyat. Fiksi tradisional cenderung dikhususkan bagi anak-anak, mengandung pesan moral yang ingin disampaikan atau sekedar hiburan. Contohnya Aladin dan Lampu Ajaib. Tidak hanya di Eropa, bahkan telah meluas hingga ke benua Asia dan Afrika. Fiksi jenis ini lebih mudah tersebar dibanding jenis fiksi lainnya.
5.          Fiksi Misteri (Mistery Fiction)
Berkisah tentang sebuah cerita yang perlu diselesaikan. Mengandung unsur tanda tanya dan menimbulkan rasa penasaran bagi pembaca, pendengar atau penontonnya. Misteri tersebut tidak mutlak harus diselesaikan. Namun banyak dari pembaca yang menyesal setelah menikmatinya, tatkala misteri yang diangkat ke dalam cerita tersebut tidak menuai penyelesaian.
6.          Fiksi Ilmiah (Science Fiction)
Jenis ini adalah fiksi yang pertama sekali terbentuk sebelum fiksi menjalar ke dalam beragam jenis. Fiksi ilmiah menceritakan tentang kejadian supranatural yang berdasarkan pada ilmu pengetahuan. Contohnya, Ar Risalah Al Kamiliyyah fil Siera An Nabawiyyah atau Theologus Autodidactus oleh seorang polymath islam Ibn Nafis. Disana beliau menyampaikan segala kejadian berdasarkan pengetahuan ilmiah biologi, kosmologi astronomi dan geologi yang dikenal di zamannya.
7.          Fiksi Humor (Humor Fiction)
Mutlak cerita lucu, konyol atau unik yang memancing penikmatnya untuk tertawa. Boleh mengandung pesan makna boleh tidak. Contohnya Abu Nawas, Komik Kambing Jantan dan lain sebagainya.
D.        Pembagian fiksi.
Secara umum, fiksi dibagi pada tiga bentuk. Fiksi dalam bentuk tontonan, fiksi yang diperdengarkan dan fiksi dalam bentuk tulisan.
1.          Fiksi dalam bentuk tontonan.
 Adalah buah karya yang ditampilkan pada penikmatnya melalui layar lebar atau layar kaca. Contohnya teater, film dan sinetron. Termasuk di dalamnya lukisan tangan atau gambar yang telah diolah sedemikian rupa, yang mana telah menyamarkan atau bahkan menghilangkan keasliannya.
2.          Fiksi yang diperdengarkan. Seperti musik, syair dan dongeng mulut yang pada dasarnya tidak benar terjadi atau telah beraduk dengan imajinasi manusia.
3.          Fiksi dalam bentuk tulisan.
Fiksi dalam bentuk tulisan atau tulisan fiksi adalah tulisan yang bersifat rekaan, karangan, atau khayalan. Untuk itu, dalam pembuatannya dibutuhkan imajinasi. Dalam tulisan fiksi ini kepekaan penulis akan diasah, mulai dari kemampuan dalam memilih suatu kata (diksi), menyusun alur, serta menyusun kalimat seindah dan seapik mungkin. Karena itu, menulis fiksi kerap diungkap sebagai menulis sastra. Dalam ilmu kejiwaan, menulis fiksi dianggap positif bagi kepribadian karena emosi yang tersimpan dapat tersalurkan. Tidak salah jika seorang bijak menasihati muridnya dengan membuat ujaran menawan, “kenalilah dirimu dengan mengarang”.
Layaknya pelukis yang menggunakan beragam warna untuk membuat sebuah lukisan, penulis juga menggunakan unsur-unsur fiksi untuk menciptakan sebuah cerita. Unsur-unsur fiksi dibagi kepada dua: Intrinsik dan Ekstrinsik.
Unsur intrinsik (intrinsic) merupakan unsur-unsur yang secara langsung membangun karya sastra. Unsur-unsur ini antara lain terdiri dari tema, tokoh dan karakteristiknya, dialog, latar, suasana, alur atau plot, peristiwa, cerita, sudut pandang penceritaan, bahasa atau gaya bahasa, dan lain-lain.
Sedangkan unsur ekstrinsik (extrinsic) adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung turut mempengaruhi sistem organisme karya sastra tersebut. Menurut Wellek dan Austin Waren, unsur ekstrinsik tak lain adalah keadaan subjektivitas individu pengarang yang memiliki sikap, keyakinan, dan pandangan hidup dimana kesemuanya akan mempengaruhi karya yang ditulisnya. Dengan kata lain, unsur biografi pengarang akan turut menentukan corak karya yang dihasilkannya.
a.          Jenis tulisan fiksi.
Beberapa jenis tulisan fiksi yang dikenal atau pernah muncul ke permukaan seperti puisi, cerpen, cerbung, novel, hikayat dan masih banyak lagi jenis lainnya.
1.          Puisi.
Menulis puisi adalah menulis menggunakan emosi dan imajinasi. Sejauh mana kita bisa memanfaatkan emosi dan mengembangkan imajinasi kita, sejauh itu pula kita bisa membuat puisi. Hal yang perlu diperhatikan dalam menulis puisi adalah kita harus mampu menyelaraskan antara makna kata, irama kata, serta pengucapan kata. Sebagai contoh puisi pendek yang digubah Gunawan Muhammad,
    biar susah sungguh
    mengingat Kau penuh seluruh
Bunyi “uh” dalam dua baris itu membentuk hubungan irama kata yang harmoni, bukan hubungan nalar. Asosiasinya menjangkau juga ke keluh, aduh, juga luruh. Kedua baris itu menjadi metafor yang mewakili situasi ketidakberdayaan, pasrah, sekaligus keberanian menanggung perbuatan secara ikhlas. Dalam menulis puisi yang harus kita lakukan adalah sejauh mana kepiawaian kita dalam membuat metafor, ungkapan, serta perumpamaaan. Jadi, apa yang hendak kita sampaikan dalam puisi tidak muncul secara vulgar, melainkan selalu terungkap dalam bahasa metaforik. Puisi selalu bersifat mengungkap sekaligus menyembunyikan. Bahasa puisi selalu memantulkan keganjilan yang memesona. Menulis puisi yang baik tidak cukup dengan mengamati peristiwa-peristiwa yang ada. Menulis puisi harus penuh perenungan, mendasar, dan berdasar. Apa yang dilihat, didengar, dirasa, dan dialami tidak serta merta dapat dijadikan puisi, melainkan harus dikaji, diendapkan, dan direnungkan secara mendalam. Contoh puisi karya Taufiq Ismail;
DENGAN PUISI, AKU
Dengan puisi, aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti.
Dengan puisi, aku bercinta
Berbatas cakrawala.
Dengan puisi, aku mengenang
Keabadian yang akan datang.
Dengan puisi, aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris.
Dengan puisi, aku mengutuk
Nafas zaman yang busuk.
Dengan puisi, aku berdoa
Perkenankanlah kiranya.

2.          Cerpen
Cerpen atau cerita pendek adalah tulisan yang menggambarkan tentang kehidupan manusia di suatu tempat dan dalam kurun waktu tertentu. Tulisan ini dibuat pendek, maksimal 10.000, 15.000 atau 20.000 karakter. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menulis cerpen yaitu:
a.          Tema
Pilihlah tema yang jelas saat menulis cerpen, tentang cerita seperti apa yang ingin kita tulis. Pesan apa yang ingin kita sampaikan kepada pembaca. Dengan adanya tema, yang menjadi tulang punggung cerita, maka cerpen kita akan meninggalkan kesan tersendiri pada pembaca.
b.         Alur cerita
Fokuslah pada satu alur cerita sesuai dengan tema yang sudah ditetapkan sebelumnya. Percabangan alur cerita mutlak harus dihindari.
c.          Karakter
Jangan menggunakan jumlah karakter yang terlalu banyak. Semakin banyak karakter bisa membuat cerita kita menjadi terlalu panjang dan tidak fokus pada tema.
d.         Sepenggal kisah hidup.
Cerpen hanya menceritakan tentang sekelumit kisah dalam hidup karakter yang kita buat. Jika karakter kita memiliki kisah hidup yang sangat panjang, tulislah hanya sebagai background yang menjadi penguat tema cerita tersebut. Tekankan hanya pada satu bagian dari hidupnya untuk ditulis.
e.          Penggunaan kata.
Gunakan pilihan kata yang efisien dan hindari menggunakan kalimat deskriptif yang berpanjang-panjang.
f.          Impresi.
Secara tradisional, cerpen dimulai dengan pengenalan karakter, konflik, dan resolusi. Alternatif lain adalah kita dapat membuat impresi pada pembaca justru pada awal cerita, dengan langsung menghadirkan konflik. Karakter kita sudah berada di dalam kekacauan besar. Hal ini akan membuat pembaca semakin penasaran, ada apa yang terjadi sebenarnya, bagaimana karakter tersebut akan mengatasi persoalannya. Pengenalan karakter, setting, dan lain-lain dapat dilakukan secara perlahan-lahan di bagian cerita berikutnya.
b.         Kejutan
Beri kejutan pada pembaca di akhir cerita. Hindari membuat akhir cerita yang mudah ditebak.
c.          Konklusi
Jangan biarkan pembaca meraba-raba dalam gelap pada akhir cerita kita. Pastikan konklusi di akhir cerita kita memuaskan, tetapi juga tidak mudah ditebak. Akhir cerita yang mengesankan akan selalu diingat oleh pembaca, bahkan setelah lama mereka selesai membaca cerita tersebut.
3.          Novel.
Novel adalah tulisan yang menggambarkan tentang kehidupan manusia. Sebuah novel bisa memuat huruf sampai ratusan ribu karakter, bahkan bisa dibuat secara berseri. Setiap novel memiliki minimal lima buah unsur, yaitu peristiwa, penokohan, tempat, waktu dan alat.
a.          Peristiwa.
Novel yang baik tidak hanya menggambarkan sebuah peristiwa, tetapi menggambarkan juga peristiwa lain, di mana semua peristiwa itu saling berhubungan.
b.         Penokohan
Karena menggambarkan berbagai peristiwa, maka jumlah tokoh atau pemeran pada sebuah novel bisa lebih dari sepuluh orang. Untuk itu sebelum menulis, minimal kita harus membuat sebuah matriks penokohan. Setiap tokoh harus jelas asal-usulnya, kondisi fisik serta mental mereka.
c.          Tempat
Tempat kejadian yang digambarkan dalam sebuah novel umumnya banyak. Meskipun demikian, tempat gambaran itu pada akhirnya saling berhubungan.
d.         Waktu
Kurun waktu dalam sebuah novel tergantung dari peristiwa yang digambarkan. Bisa panjang, bertahun-tahun, bisa juga singkat, hanya beberapa jam. Yang pasti semua peristiwa setiap waktunya saling berhubungan mulai dari awal hingga akhir.
e.          Alat
Alat-alat yang mendukung penokohan dalam suatu peristiwa harus mudah dimengerti pembaca. Untuk itu, pendeskripsiannya harus jelas.
4.          Hikayat.
Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa yang berisikan tentang kisah, cerita, dan dongeng. Hikayat merupakan tulisan fiksi yang sudah tak banyak digemari. Mungkin dianggap terlalu rumit atau sulit merangkainya. Umumnya hikayat mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian serta mukjizat tokoh utama. Sebuah hikayat dibacakan sebagai hiburan, pelipur lara atau untuk membangkitkan semangat juang. Beberapa contoh hikayat Aceh seperti, hikayat Prang Sabi, hikayat Malem Diwa, hikayat Banta Beuransah, hikayat Meudeuhak dan lain sebaginya.
8.          Penutup
Demikian sebagian rangkaian tentang dunia fiksi. Masih banyak genre fiksi yang bertaburan di kalangan masyarakat bahkan hingga ke daerah terpencil. Dimana pada dasarnya, semua itu kembali pada imajinasi dan dunia khayal penulisnya. Termasuk juga salah satu jenis tulisan yang baru muncul seperti faksi, yaitu perpaduan antara fakta dan fiksi.
Semoga makalah ini menjadi pendongkrak keingin tahuan kita untuk menyibak tirai fiksi dan mengenalnya jauh lebih mendalam, bahkan mampu berdakwah melaluinya. Banyak orang yang ingin menulis, namun sedikit yang benar-benar menjadi penulis. Banyak pula orang yang tak berkeinginan menjadi penulis, tapi akhirnya lebih dikenal sebagai penulis. Usaha yang keras dan do’a yang selaras juga merupakan pokok penting menuju cita-cita yang kita impikan. Allah akan menolong sesiapa yang menolong agama-Nya. Wallahu a’lam.
*Dikutip dari berbagai Sumber.