Jumat, 16 September 2011

Kuasa di Tangan Tuhan

Sebut saja namanya Amir. Sebagaimana bayi-bayi lainnya, tahun 1986 Amir terlahir dari rahim Bu Fatimah (nama samaran). Ia lahir dengan normal. Kehadirannya disambut masyarakat sekitar dengan penuh rasa cinta, bangga dan bahagia, tak terkecuali kedua orang tuanya. Amir dibesarkan dengan penuh rasa kasih sayang. Namun akhirnya semua berubah tatkala musibah melanda.

Tahun 1990, dikala Amir beranjak usia 4 tahun. Petaka menyerempet ke tengah-tengah keluarga itu, kepada Amir. Bukan kecelakaan, bukan juga musibah-musibah biasa yang dapat diterima akal. Namun musibah yang bahkan dokter angkat tangan dalam masalah ini. Amir terkekau dari tidur dengan kedua mata hitam lenyap, sirna, musnah tanpa tanda. Ia mengalami kebutaan. Tak pelak fenomena ini menjadi tanda tanya besar pada kedua orang tuanya. Termasuk saudara-saudara kandungnya. Amir pun dibawa ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan asbab musabab sekaligus penyembuhan. Dokter garuk kepala. Sebagai dokter, tugas mereka adalah berusaha sekuat tenaga untuk kesembuhan pasien. Mereka meminta kesediaan Amir untuk dironsen sampai diketahui akar penyakit lalu mulai tahap penyembuhan. Tentunya dengan biaya tak sedikit. Kedua orang tua Amir memilih untuk berfikir berulang kali lagi.
 
Menimbang, keluarga mereka di bawah rata-rata, Amir dibawa ke orang pintar berikut berbagai bentuk corak penyembuhan lainnya. Alhasil, tak beda jauh dengan jawaban ahli medis, mereka hanya dapat menggelengkan kepala. Mereka tak berani memberi jaminan bahkan untuk sekedar harapan. Celaka. Kini hanya satu pilihan yang tersisa. Bersedia mengeluarkan biaya banyak untuk meronsen Amir atau tidak sama sekali. Kalau tidak, artinya Amir akan buta seumur hidupnya. Kecuali datang mu’jizat yang akan mengubah segalanya seperti semula, seperti kala Amir dihinggapi kebutaan tersebut. Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang gala. Orang tua Amir setuju untuk Amir dironsen, berapapun biayanya.

Seminggu sampai dua minggu sekali, Amir terpaksa ke rumah sakit guna melakukan ronsen seperti yang dokter kehendaki. Tapi usaha itu tak kunjung menuai hasil, kecuali sebatas diketahui bahwa mata hitam Amir berputar arah, berpindah ke bawah. Ronsen tetap dilakukan karena belum diketahui alasan pasti mengapa berpindahnya mata hitam tersebut. Akibat dari ronsen berlebihan, Amir banyak kehilangan sel darah putih (leukosit) yang berujung pada resiko baru, kekurangan sel darah putih (Neutropenia). Fungsi sel darah putih adalah mengepung dan memakan bakteri yang menempel pada luka hingga tuntas, tanpa bekas. Amir kecil telah kehilangan banyak, maka sekecil apapun luka yang menempel di tubuh Amir, akan menjadi gurat yang tak bisa dihilangkan.

Beruntung, jika kebutaan Amir hengkang. Namun justeru sebaliknya, jika ronsen terus dilanjutkan hingga melampaui batas, resiko demi resiko lain akan datang bertubi-tubi. Akan banyak lagi dunia pekat menghampiri Amir. Dar-ul Mafasid Muqaddim ‘ala jalbil mashalih. Tampaknya istilah itulah yang tepat untuk pilihan yang orang tuanya ambil, menolak kerusakan lebih utama dari mengambil manfaat. Belum lagi dengan hutang sana sini yang harus ditambal. Ronsen pun dihentikan.

Bu Fatimah, mukanya tak cukup tebal dengan kondisi Amir. Ia mulai tak diizinkan keluar rumah meski sekedar di halaman. Anak-anak akan berlari melihat manusia berhias mata putih semata. Sambil berlari ketakutan mereka akan berteriak, “Hantuu...hantuu...!!!” Yah, hantu kesiangan. Semua orang telah berputus asa pada Amir. Lalu apa yang orang tuanya tunggu? Tidak ada. Selain menunggu keajaiban dari Allah dengan panjatan do’a sepanjang siang dan malam. Lama keadaan itu berlanjut, semua mulai buang muka dari bocah malang tersebut.

Ketika itulah, sang pahlawan tiba. Tak Lain adalah nenek Amir sendiri, ibu dari ayahnya. Hasil tidak akan dicapai hanya dengan menunggu. Sang nenek bersedia menjadi dokter sekaligus nahkoda demi kesembuhan Amir. Setiap harinya, Amir menemui neneknya untuk menerima tsumboe (semburan) air sirih ke wajahnya. Lima bulan kemudian, Amir merasakan sakit teramat sangat dalam tengkorak kepala. Sanking parahnya, hidung Amir mengeluarkan cairan hijau begitu deras, mengalir bagai air terjun. Entah karena kasihan atau ketidak tegaan, nenek Amir menyedot cairan tersebut dengan mulutnya sendiri. Setiap hari. Tentu dengan maksud tertentu.

Perlahan, seiring pergantian masa, si hitam yang dinanti mulai kentara. Mata hitam Amir terbit bagai mentari. Amir mulai bisa melihat. Lantas dalam jangka waktu satu tahun, mata Amir sempurna seperti sedia kala. Ketika ditanya bagaimana sang nenek mampu melakukannya, beliau berkata, “Kuatsa bak Poe.” Kuasa di tangan Tuhan.

Buah dari pengobatan dan beraneka ekperimen pada rongga kepalanya, fungsi otak atau IQ (Intellegence Quotient) Amir melemah. Tahun 1992, Amir masuk SD dan baru selesai dalam waktu delapan tahun. Amir percaya, dengan bisa melihat, ia diberi kemampuan untuk cerdas seperti anak-anak lainnya. Berikut sokongan dari orang tuanya. Tahun 2000 Amir menimba ilmu di salah satu pesantren swasta, ia bisa selesai dalam waktu yang diharapkan, selama tiga tahun. Kemudian tahun 2003, Amir melanjutkan belajar ke Madrasah Aliyah Negeri, juga selesai dalam tiga tahun seperti yang lainnya. Amir semakin percaya diri. Amir mulai mengukir cita-cita, kuliah di Universitas Al Azhar, Mesir.

Ia tahu itu tidaklah mudah. Untuk kesana butuh modal, sekurang-kurangnya bermodalkan ilmu agama. Remaja itu pun menjelajahi berbagai wadah ilmu selama setahun.  Tahun 2007 Amir pertama mengikuti testing ke universitas yang ia cita-citakan. GAGAL. Amir tak patah semangat. Amir memang belum naik peringkat, tapi posisinya juga tidak turun. Tahun 2008 ia kembali mengikuti testing tersebut. Amir dinyatakan lulus dan berhak belajar di universitas Al Azhar Cairo, Mesir.

Tentunya, berbagai kendala yang ditimbulkan oleh IQ yang lemah menyerang Amir. Tambah lagi dengan titik hitam bekas luka yang Amir alami sepanjang hidupnya tak bisa dihilangkan lagi. Akankah membuatnya minder? Yang jelas, Amir kini berdiri tegak siaga menerima tantangan masa depan. Dengan optimis siap mengukir sejarah peradaban. Bagaimana dengan kita? Yang fisik masih normal-normal saja dan IQ masih alami bawaan sejak kita belia? Semoga pertolongan Allah senantiasa menziarahi sosok diri Amir sesungguhnya juga kita semua, saudara seiman dan seagama.

Kisah ini merujuk langsung pada teman saya sendiri. Berikut beberapa bukti dan kenalan dekat yang dapat dijadikan saksi atas peristiwa yang pernah beliau alami.