Jumat, 16 September 2011

Jangan padamkan lentera itu

Tinta duka daku, untuk kawanku.  

Bersama
kita berpacuan kuda
menapak rawa
bersama...
cahaya mentari kita singkap
menyimak gelegar petir
meresapi pelukan musim
detak jantung kita seirama
aliran darah kita searus
...dan...
“kita senyawa”...kawan...
Aku lihat terowongan
ia menganga, seram dan menakutkan
berselimut hitam,
pekam, pewagam
lalu mengapa,
kita harus melucup ke dalamannya?
karena tuan kita
yang suatu saat akan menjemput
setiap raga yang bernyawa

Di dalam sana sangat terjal
suram, gawir, tubir dan senjang
aku takut...
wajahmu mengerut, kecut.
Kita tak boleh berhenti
Kuharap,
Bila nanti kita terpisah
Jangan pernah padam lenteramu
Senyummu kurindu...
di ujung lorong sana

Berlari, meraba, tertatih
Hingga membiawak
Namun segala duka sirna
Begitu aku tiba
Di “tempat yang kita dampa”
Tapi kemana engkau...kawan?
Oh...
Kau masih di dalam...
Pasti disana sangat gelap
Pasti disana sangat pekat
Kau harus bertahan,
Ini hanya permainan waktu
Jangan padam lenteramu
Atau kau tak akan pernah kembali
Dan aku rapuh dalam menanti
Aku akan tetap disini..
...untukmu...
Sampai mati.