Kamis, 15 September 2011

Biarkan Kaktus Itu Tumbuh


Untuk rekanku pada posisi anak kunci terakhir.

Ini adalah tulisan kuno. Tulisan yang mungkin berabad-abad lalu sudah pernah membusuk, terkubur di dasar tanah, diremuk beragam serangga dan aneka cacing tanah. Mungkin akan terdengar norak atau primitif dengan kembali memaparnya pada era ini. Namun begitulah orang-orang tua kita dahulu, menyimpan barang rongsokan sampai berbulan bahkan bertahun-tahun. Kalau ditanya untuk apalagi, selalu mereka akan menjawab, “Suatu saat akan kita butuhkan.” Menyorot fenomena ini, coba kembali kita letakkan di atas kompor, berharap masih bisa kita panaskan, lalu menjadikan bahan santapan ringan dalam mengisi waktu kosong kita yang tersisa.

Almarhum paman saya pernah berkata, “taroe peng keu hai nyang tan perle. Bak saboh watee roh tapeubloe nyang perle.” (Menghamburkan uang untuk hal yang tidak perlu, pada suatu waktu kita terpaksa menjual yang kita perlu).

Umumnya, melihat orang-orang sukses akademik duniawi maupun ukhrawi, hati kita tersentil untuk menjadi seperti mereka. Orang-orang yang telah berhasil menciptakan lukisan indah dari beragam corak warna yang mereka aduk. Kita berhasrat untuk duduk di bangku mereka. Masalahnya, mengapa sebagian dari kita terlihat sungkan, inginnya hidup menjadi diri sendiri, seperti dahulu, masa kecil kita, masa bermain tanpa beban apa-apa. Kita ingin menjadi burung yang terbang bebas di angkasa, tanpa rantai yang memasung, tanpa tembok penghalang.  Dan sejatinya, kita semua sudah tahu, suatu saat kita akan menitikkan air mata atas sesuatu yang sangat berharga yang kita buang untuk hal yang pada dasarnya kurang penting dan suatu saat sesuatu itu akan sangat kita butuhkan, ialah masa. Satu mimpi yang masyarakat barat dan para ilmuan mereka rencanakan sejak dahulu kala adalah mencipta mesin pengulang waktu. Semua beban hidup sudah berhasil mereka lambung-lambung layaknya bola kasti. Tapi tidak dengan waktu. Allah telah menegaskan,

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu. Maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (Q.S Al A’raf: 34)

Satu dalil tersebut mengarah pada konteks waktu dimana tak seorang pun dapat mengobrak-abriknya. Masih banyak dalil lain yang tak mungkin kita sebutkan semuanya. Ma fata qad fata. Yang lalu itu telah berlalu. Berharap ia akan kembali ibarat mengharapkan api membeku. Yah, kita semua juga tahu itu. Tak ada negosiasi dalam hal jalannya waktu. Masa lalu menentukan masa kita sekarang dan masa sekarang menetukan masa kita ke depan. Mutlak. Tapi mengapa kita seperti orang yang tahu api itu panas tapi masih juga bermain api. Sehingga akhirnya kita akan terbakar. Ketika terbakar, ada yang berusaha sembuh berikut bekas lukanya. Ada juga yang sekedar sembuh tapi masih membiarkan bekasnya. Ada juga hanya menunggu sembuh dengan sendirinya tanpa usaha menyembuhkan luka bakar itu. Lha, itu pun kalau sembuh, kalau tidak ia bisa saja infeksi, bernanah sehingga berakibat fatal dan mengancam nyawa.

Naas, ketika kita gagal, di arena Al Azhar. “Kegagalan yang kita alami ibarat bebatuan. Mereka bisa menjadi batu loncatan atau batu peremuk.” (David Cowan)

Begitulah di arena kita. Pertama, mereka yang berusaha kembali bangkit dari kegagalan, menganggap itu sebuah batu loncatan, untuk meloncat lebih jauh meninggalkan yang lain di belakang. Kedua, mereka yang tak lagi mengejar kegagalan, tapi mengejar apa yang terselubung di balik semua itu, ilmu tanpa harus bertitle. Ketiga, mereka yang menanti takdir, sebuah bisikan yang akan membuat kita berubah secara serta merta. Itu pun kalau datang, kalau tidak berarti takdir kita untuk tak berubah, terus dalam kegagalan yang entah sampai kapan. Menjadikan kegagalan sebagai batu peremuk.

Beruntung jika kita memilih yang pertama. Dimana kita berharap yang terbaik dari yang baik. Kegagalan adalah awal kita untuk menjadi lebih sukses. Kita harus mundur selangkah sebelum berlari, maju lebih jauh. Hendry Ford, seorang penemu, dermawan sekaligus pengusaha yang mendapat julukan Springwells Township pernah berkata, “kegagalan merupakan kesempatan mengulang kembali dengan seksama.”

Kalau kita mengambil pilihan kedua, juga tidak salah. Kata orang, harta, tahta termasuk wanita bagaikan bayangan. Sedang ilmu adalah wujud aslinya. Bayangan akan ikut kemanapun wujud asli menuju. Atau, boleh saja ilmu kita ibaratkan seperti cahaya, ketika kita berjalan membelakangi cahaya, bukankah bayangan akan berada di depan kita. Nah, ketika kita sibuk mengejar bayangan, kita akan semakin jauh dari cahaya dan bayangan akan hilang dalam kegelapan. Namun sebaliknya, ketika kita berjalan menuju cahaya, bayangan akan mengikuti kita dari belakang. Begitulah ketika kita sibuk mengejar cahaya, kita akan semakin dekat dengan cahaya, dan bayangan akan semakin dekat dengan kita. Segala kebutuhan duniawi akan kian mendekat selama kita mendekati cahaya, mengejar ilmu. Apalagi yang kita kejar ilmu agama, diniawi sekaligus ukhrawi akan mengekori kita.

Bagaimana dengan pilihan ketiga? Berputus asa.

Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa sesuatu musibah disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.” (Q.S Ar Rum: 36)

Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (Q.S Yusuf: 87)
Jelas dan nyata sekali, berputus asa itu bukan pilihan kita. Kita adalah orang-orang terpilih. Kita seperti mereka, orang-orang khusus yang telah disediakan untuk menjadi besar.

Kawan, dunia tanpa kita adalah rimba. Dunia membutuhkan kita. Dunia membutuhkan kekuatan besar dalam diri kita untuk kita gunakan. Semua kita memiliki. Hanya saja ia belum kita syaghal-kan. Sebagian dari orang-orang terdahulu sudah memberi. Akankah semua itu pergi seiring kepergian mereka? Akankah kita mengharapkan dunia ini kembali berwujud rimba?

Kita berkeinginan untuk bisa mengendarai mobil. Jarang sekali kita berkeinginan untuk bisa membuat mobil. Kita selalu mengandalkan potensi 10% yang kita miliki. Tapi kita lupa pada 90% potensi raksaa kita yang tertidur. Kita beranggapan kekuatan adalah yang kita miliki, bukan yang kita ciptakan. Kalau begitu jangan salahkan siapa-siapa bila kita menemukan ribuan, jutaan bahkan milyaran orang yang Allah anugerahkan kelebihan berlipat ganda.
Dalam dunia ini akan selalu ada hitam dan putih. Akan selalu ada yang yang jatuh dan bangun. Seorang bayi tidak akan bisa berjalan tanpa sebelumnya ia jatuh dan bangun. Orang tidak peduli berapa kali bayi itu sudah pernah terjatuh. Yang orang perhatikan ialah kapan bayi itu mulai bisa berjalan. Orang tak peduli berapa banyak tulang yang telah kita banting, yang orang perhatikan ialah apa yang telah kia raih. Orang tak selamanya melihat kuantitas kita, tapi kualitas yang kita miliki.

Kalau tak malu, berbuatlah seenak hatimu.” (HR. Bukhari)

Setiap kita punya perasaan. Bukankah setiap kita merasakan rasa malu ketika calana kita tersingkap di depan khalayak ramai. Saya tidak sedang bercerita tentang mereka yang tak punya malu. Tapi ini tok tok tentang kita. Kita semua punya malu. Kita punya harga diri. Sangat tidak pantas mereka menganggap kita bukan seperti mereka, menganggap kita manusia lemah, manusia yang tak memiliki kelebihan seperti yang ada pada mereka. Kita dianggap tidak memiliki IQ atau pengetahuan seperti mereka, orang-orang maju. Terlebih ketika orang-orang menganggap kita lalai dari kewajiban. Menganggap kita lebih cenderung bermain ketimbang mencari ilmu pengetahuan dengan sungguh-sungguh.

Yah, kita malu ketika kita dianggap tidak becus. Apa mereka salah dengan menganggab kita demikian? Tidakkah kita berfikir, bahwa celana kita adalah kita sendiri yang merobeknya. Maju tidaknya kita bukan karena disihir oleh mantera-mantera mereka. Tapi nafsu, egoisme dan apatisme pada diri kita sendiri menyebabkan kita tersungkur. Yang membunuh karakteristik dasar dan semua kekuatan besar yang kita miliki. Sehingga menyebabkan orang-orang menganggap kita manusia kacangan.

Semangat adalah aset terbesar di seluruh dunia. Ia mengalahkan uang, kekuasaan dan pengaruh.” (Henry Chestera)

Jangan berkecil hati. Sering kali anak kunci yang bisa membuka adalah anak kunci terakhir dalam rentengan. Boleh saja orang menganggap kita tertinggal jauh di belakang. Namun tak ada yang boleh memastikan kalau nantinya ternyata kitalah yang akan membawa sebuah perubahan besar dalam dunia? Kawan, kita akan tersiksa terus dalam kegagalan. Kita akan merasakan beban dan kian hari kian terpuruk. Kapan ini akan berakhir? Ini tidak akan berakhir hanya dengan kita duduk diam. Nanar menatap orang-orang yang terus mendaki, mengejar cita-cita yang melayang-layang di angkasa. Satu-satunya yang bisa mengerjakan segala sesuatu sambil berdiri diam hanyalah boneka pajangan. (Dean Koontz).

Ah, siapa bilang kita diam seperti boneka pajangan. Kita masih berusaha kok, kita masih mengejar mimpi-mimpi kita, tapi apa yang kita lakukan kerap hasilnya sia-sia. Kita masih tersingkir ke tepian. Mengapa ini terjadi? Bagaimana tidak, kita masih melakukan usaha yang sama lantas mengharap hasil yang berbeda. Dan itu adalah harapan yang sangat tipis sekali. Usaha kita masih seperti apa yang sudah pernah kita lakukan tapi kita berharap hasilnya akan berbeda. Maaf cakap, jika kita masih belajar seperti ketika kita gagal dulu, bagaimana hasilnya akan lain? Kita butuh mengevaluasi kinerja kita. Sudahkah kita melakukan yang seperti orang-orang sukses itu lakukan?  Belajar sampai larut malam, membaca dan menghafal muqarrar sampai berbuih-buih, memiliki semangat membara untuk mengejar cita-cita. Kalau kita belum melakukannya, mengapa tidak kita mulai dari sekarang? Kecuali kalau kita ingin terus orang-orang melihat kita bagaikan bunga yang copot dari tangkainya. Jangan salahkan anggapan orang. Karena saya, juga kita akan melakukan hal yang sama ketika kita berada di posisi mereka.

Atau, boleh jadi kita sudah mencoba berbagai cara, segenap upaya telah kita jalani, segala jalan telah kita tempuh. Tapi masih juga kosong hasil. Kenapa? Karena posisi kita berbeda dengan mereka, karena mereka memiliki beberapa kelebihan yang tidak kita miliki. Kajeut, itu kita jadikan alasan mengapa kaki kita masih terpasung untuk berlari. Tapi untuk sekedar kita ketahui, orang-orang sukses adalah bukan mereka yang suka mengeluh. Coba tilik orang-orang besar di sekeliling kita, jarang sekali terdengar keluhan dari mulut mereka. “Usaha yang terus-menerus –bukan kekuatan atau kepintaran– merupakan kunci untuk mengembangkan semua potensi yang kita miliki.” Percayalah, semua itu tak akan sia-sia. Kita akan merasakan pengaruhnya pada suatu saat nanti. Pengaruh yang tidak dimiliki orang-orang yang belum mengalami pengalaman seperti kita.

Kawan, dimana-mana itu akademis adalah wajah kita. Kita penyair, designer, penulis, da’i, hafidh, seniman atau apapun kelebihan pada diri kita. Tapi tanpa gelar, orang-orang hanya akan memanfaatkan kelebihan kita. Orang-orang akan membayar untuk nilai seni pada diri kita sehingga kita hanyalah berbentuk manusia bayaran. Bukan ingin mengajak untuk berlomba-lomba mengejar title. Tapi kalau kita mampu mendapatkan wajah kita sendiri, kenapa tidak. Dengan akademis atau lebih tepatnya gelar, orang-orang akan lebih menghormati kita, orang-orang akan berfikir dua kali untuk menganggap kita manusia murahan. Jadilah orang yang sukses kedua-duanya. Karena dengan itu kita akan lebih unggul dari mereka.

Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman yang mempunyai ilmu di antara kamu dengan beberapa derajat.” (QS. Al Mujadallah: 11)

Kawan, kita sukses atau gagal matahari tetap akan terbit dan terbenam. Bumi akan terus berputar tanpa menunggu kita berubah. Sepanjang apapun malam subuh pasti datang. Apa yang kita lakukan sepanjang malam dan dari pagi hingga petang, merupakan pohon yang kita tanam untuk kita petik di masa akan datang. Biarkan kaktus itu tumbuh karena suatu saat ia akan berbunga dengan sangat indah sekali. Jangan biarkan nasi menjadi bubur. Kita masih bernyawa, semua masih bisa berubah. Takdir kita ke depan masih abu-abu, masih sangat misteri, tinggal bagaimana kita menggayuh kapal layar kita agar sampai ke dermaga yang kita tuju. Jangan memelihara babi dalam kebun ubi. Jangan hancurkan niat suci kita di negeri ini dengan beragam hal yang sangat tidak memberi manfaat atau bahkan menodai bahtera surga yang telah Allah sediakan. Allah bersama kita dan akan terus membela kita selama kita berada di jalan-Nya. Allah malu untuk tidak mengabulkan do’a hamba yang bermunajat kepada-Nya.
Kawan, kau sudah menemukan batu tumpuanmu untuk meloncat lebih jauh. Sekarang lompat, lompat dan lompatlah. Lupakan tangisan masa lalumu, kenali dirimu seutuhnya, bahwa kau adalah manusia paling spesial yang telah Allah ciptakan dengan tak ada seorang pun seperti kamu. Tidak ada dan tak pernah ada. Orang yang hidup persis sepertimu hanyalah kau pertama dan terakhir, jangan remehkan kesempatan itu. Semoga suatu saat kita bertemu di singgasana megah, tempatnya orang-orang besar berbisik tentang keagungan Allah azza wajalla. Tempatnya orang-orang besar yang ingin menegakkan panji-panji islam lillahi ta’ala.

Don't be lost for the second hand, every thing will be change, every one will be the winner and every where we're t'One. Only...Us!!!
Kembali ke part-1 disini.